Anwar Abbas: Koperasi Merah Putih Bisa Jadi Harapan atau Janji Kosong bagi UMKM

Anwar Abbas: Koperasi Merah Putih Bisa Jadi Harapan atau Janji Kosong bagi UMKM

 


Teks Foto : Pembangunan Koperasi Merah Putih di tengah kompleks persawahan di pedalaman Jawa Tengah, simbol upaya dukung UMKM lokal.(Sumber Berita: KBA News

Aliansitv.com, Jakarta – Di tengah gegap gempita rencana pendirian Koperasi Merah Putih di seluruh desa di Indonesia, muncul pertanyaan krusial: apakah program ini benar-benar menjadi angin segar bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro, atau sekadar janji manis yang sulit diwujudkan?

Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, pada Selasa, 31 Maret 2026, yang dikutip Aliansi Tv, melalui KBA News, menyoroti fakta yang kerap terlupakan: hampir 99 persen UMKM di Indonesia bergerak di sektor mikro dan ultra mikro.

Sayangnya, akses UMKM ke fasilitas perbankan masih sangat terbatas karena dianggap “belum bankable”.

Akibatnya, banyak UMKM terpaksa meminjam dari rentenir atau pinjaman online ilegal dengan bunga mencekik. Anwar mencontohkan pengalaman nyata:

“Saya pernah ditemui seorang tokoh masyarakat berusia lebih dari 75 tahun yang datang jauh-jauh untuk menceritakan nasib UMKM di daerahnya. Mereka terjebak praktik ‘Bang 46’—dipinjam 4 dibayar 6 dalam 10 minggu. Artinya bunga bisa mencapai 250 persen per tahun!”

Jika pemerintah menawarkan pinjaman murah melalui Koperasi Merah Putih dengan bunga hanya 6 persen per tahun, secara teori ini menjadi kabar baik.

Namun, pertanyaannya, apakah dana ini benar-benar sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan?

Anwar menekankan kekhawatirannya, “ Tidak mustahil dana murah ini dimanfaatkan oleh pihak yang dekat dengan kepala desa atau pengelola koperasi. Akhirnya, pelaku usaha mikro dan ultra mikro yang benar-benar membutuhkan modal justru tersingkir.”

Pengalaman Masa Lalu Menghantui, Data dari pedalaman Jawa Tengah menunjukkan adanya skeptisisme aparat desa terhadap unit simpan pinjam di koperasi.

Sejarah mencatat, sejak era Koperasi Unit Desa (KUD) hingga berbagai program permodalan pemerintah, pengelolaan dana pinjaman kerap macet karena penerima enggan mengembalikan modal.

Seorang sekretaris desa menjelaskan " Kenyataannya, masyarakat tahu itu uang pemerintah, jadi mereka santai saja meminjam. Kepala desa pun banyak yang enggan membuka unit simpan pinjam karena bila merugi, dana desa-lah yang menutupi kerugiannya.”

Harapan atau Tantangan? Pendirian Koperasi Merah Putih menjadi ujian besar bagi keberpihakan pemerintah terhadap usaha rakyat lapis terbawah.

Suksesnya program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana murah, tetapi juga pada integritas pengelolaan, transparansi, dan kesadaran masyarakat dalam mengelola pinjaman.

Anwar menutup pesannya dengan nada realistis namun penuh harapan:

“Jika dikelola dengan baik, Koperasi Merah Putih bisa menjadi penyelamat usaha mikro dan ultra mikro. Tapi bila dibiarkan diselewengkan, harapan ini bisa menjadi janji kosong lagi.”(Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama